Enterprise Content Management ? Kayak Joomla ya ?
Enterprise Content Management? Apakah itu semacam Wordpress atau Joomla? Kata ‘content’ di dalamnya membuat banyak orang salah kaprah. Jadi apa sebenarnya Enterprise Content Management atau ECM itu? Sebelum terjebak dalam definisi-definisi, memahami Enterprise Content Management dapat dimulai dari apa yang sering terjadi di banyak institusi keuangan.
Institusi keuangan menciptakan dan mengatur dokumen dalam jumlah yang sangat besar setiap harinya. Dokumen-dokumen ini mempunyai posisi yang sangat penting dalam fungsi bisnis sehari-hari. Proposal, dokumen administratif, dokumen yang berkaitan dengan pinjaman, kontrak-kontrak dan lain sebagainya. Dalam proses pengaturannya, seringkali perusahaan menerapkan teknik desentralisasi dengan memberi kewenangan bagi masing-masing bagian perusahaan untuk mengatur dokumen mereka sendiri.
Hasilnya, dokumen tersebar di berbagai tempat dan sulit sekali untuk benar-benar mendapatkan gambaran menyeluruh secara 360 derajat atas nasabah anda.
Oleh karena itu, inti dari Enterprise Content Management adalah manajemen dokumen. Dengan ECM, dokumen-dokumen anda yang berada di berbagai tempat dan berasal dari berbagai sumber dapat disatukan. Baik korespondensi melalui email maupun dokumen-dokumen berkenaan dengan nasabah – seperti KTP, formulir aplikasi, slip gaji dan hasil analisa survey- semua dapat disimpan dengan terstruktur.
Anda memiliki beberapa sistem yang sudah ada dalam perusahaan ? Tidak masalah. ECM juga dapat mengintegrasikan output dari sistem tersebut sehingga anda dapat melihat secara jelas, menyeluruh, 360 derajat tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan nasabah.
Di samping mempermudah informasi, Enterprise Content Management juga berfungsi untuk mengotomatisasi proses bisnis yang berkaitan dengan dokumen tersebut.
Contohnya pada saat memproses aplikasi pinjaman:
- Marketing dapat melakukan input tentang informasi pinjaman secara langsung dalam formulir elektronik, secara otomatis ECM akan mendeteksi bahwa ada aplikasi baru yang harus diproses.
- Dokumen-dokumen pendukung dapat diupload ke sistem ECM, baik yang dikirim lewat email maupun dikirimkan secara langsung ke kantor cabang.
- Pihak yang memproses aplikasi akan dinotifikasi untuk melakukan survei.
- Formulir survei akan langsung dibuat dan diberikan pada pihak survei secara otomatis
- Setelah survei selesai, hasilnya dapat dikirimkan ke sistem ECM, dan setelah ECM akan menotifikasi pihak yang berwenang untuk menyetujui atau menolak permohonan pinjaman. Jika pengguna ingin mencek kembali dokumen-dokumen pemohon, pengguna dapat melihatnya secara otomatis melalui ECM.
- Setelah disetujui, dokumen kontrak dapat secara otomatis dibuat.
Biasanya, jumlah alur kerja yang dapat diotomatisasi seperti contoh di atas adalah tidak terbatas. Jadi institusi keuangan bebas untuk membuat banyak alur kerja sesuai dengan fungsi yang ada. Banyak solusi ECM juga mengijinkan anda untuk melihat seberapa efisienkah alur kerja di perusahaan anda. Bottlenecks dapat dengan cepat teridentifikasi, sehingga anda dapat melihat apakah proses yang ada harus diperbaharui atau tidak.
Banyak institusi keuangan menggunakan ECM untuk meningkatkan produktivitas dan customer service mereka, namun lebih dari itu, ECM juga dapat mempermudah proses kepatuhan pada regulasi dan mempermudah kolaborasi antar departemen.
Gambar 1: Area Penggunaan ECM berdasarkan survei di
bank-bank ukuran menengah dan credit unions di Amerika Serikat tahun 2006-2007
Sumber: The Cornerstone Report: Benchmarks and Best Practices
Jika disimpulkan, ECM adalah solusi yang merawat seluruh konten yang ada dalam institusi keuangan dari awal hingga akhir siklus hidupnya. Apakah perusahaan anda memerlukan ECM?














